Sesuai dengan judulnya, dalam bentuk apapun terlalu fanatik itu tidak baik. Apalagi kalau sampai menganggap diri sendiri yang paling benar terus yang lain jelek, tidak bagus, tidak benar dll dll.

Dalam hal tertentu fanatik tetap dibutuhkan, contohnya saya sebagai muslim secara fanatik membabi buta setuju kalau sholat dzuhur itu aslinya 4 rokaat, kalau ada yang kurang dari itu (kecuali yang lagi qoshor ya) maka salah atau lebih dari 4 ya salah. Fanatik yang seperti itu saya rasa gak masalah, soalnya ada dalam hal yang jelas aturannya. Tapi kalau untuk hal-hal lain yang memang tidak jelas ya udahlah gak usah fanatik-fanatik banget, biasa saja.

Sejak awal ramadhan ini banyak yang tiba-tiba jadi fanatik, masalah apa? ya masalah penentuan tanggal 1. Sampai tadi pun saya masih menjumpai beberapa yang membela pendapatnya dan nyinyirin pendapat yang lain. Dan sepertinya akan rame lagi menjelang penentuan 1 syawal.

Ya semoga saja tahun depan hal-hal seperti ini tidak perlu terjadi, semua bisa menahan diri dan saling bersabar. Kalau bisa sih ada salah satu yang mau ngalah, jadi bisa bareng-bareng, kan lebih afdhal tu kalau bisa serentak, bukannya kebersamaan dalam jamaah itu lebih utama dari pada perbedaan? ingatkan cerita imam Ahmad yang membid’ahkan qunut subuh tapi tetap menyuruh mengikuti jika imam sholat melakukan qunut?

“Jika engkau shalat di belakang Imam yang qunut maka ikutilah qunutnya, dan aminkanlah doa imam tersebut.”

Demi persatuan dan kebersamaan umat, serta agar tidak timbul kebencian antara sebagian kita terhadap sebagian yang lain kenapa to harus ngeyel-ngeyelan? menganggap kita sendiri yang paling benar dan yang lain pasti salah?.

Duh dari mau nulis tentang fanatik malah mbleber kemana-mana 😐

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.