Install Rails Pada Fedora Dengan RVM

Rvm merupakan salah satu aplikasi yang bisa kita manfaatkan jika ingin menginstall beberapa versi ruby dalam system kita. Sebagai informasi saja, jika kita menggunakan linux bisa jadi versi ruby bawaan dari distro yang kita gunakan ternyata belum menggunakan versi terbaru, padahal tentu akan lebih mantab, kalau orang jawa bilang “marem”, kalau menggunakan versi yang terbaru. 

Untuk distro yang digunakan disini adalah fedora, tapi rasa-rasanya tidak ada masalah yang berarti jika menggunakan distro lain. Kecuali jika misalnya menggunakan fishshell maka bisa jadi ada sedikir masalah. Jika menggunakan bash atau zsh seharusnya aman-mana saja.

Untuk instalasi rvm sendiri sederhana saja, dari website nya:

$ gpg --keyserver hkp://keys.gnupg.net --recv-keys 409B6B1796C275462A1703113804BB82D39DC0E3

kemudian

$ curl -sSL https://get.rvm.io | bash -s stable --ruby

Untuk menginstall rvm sekaligus ruby versi terbaru yang didukung rvm.

Setelah itu jalankan

$ source .rvm/scripts/rvm

Setelah itu silahkan cek versi ruby nya

$ ruby --version
ruby 2.2.1p85 (2015-02-26 revision 49769) [x86_64-linux]

Untuk instruksi yang lebih lengkap dalam instalasi rvm bisa langsung merujuk ke http://rvm.io/rvm/install

Jika sudah yakin dengan versi ruby yang kita install bisa dilanjutkan dengan install rails nya

$ gem install rails

Setelah selesai cek dengan

$ rails version
Rails 4.2.1 

Jika sudah oke, maka kita siap bermain-main dengan rails. 

Happy Coding

Mengenai Pemilihan Distro Linux

Ubuntu, sebagai salah satu distro paling populer dan salah satu distro yang memiliki turunan banyak juga menerapkan metode rilis setiap bulan sekali, jadi setiap tahun nya ada 2 rilis dan jika kita termasuk pengguna ubuntu dan ingin selalu menggunakan yang terbaru maka setidaknya 2x dalam setahun kita melakukan instalasi. Tetapi ada juga versi LTS (Long Term Support) yang rilis setiap 2 tahun sekali dan memiliki masa tayang lebih lama , jadi bagi yang tidak ingin 2x setahun melakukan installasi bisa menggunakan versi LTS ini.

Oke, penulis saat ini tidak suka ubuntu, lebih tepatnya tidak suka dengan unity. Kenapa? preferensi pribadi sih, tidak ada masalah apa-apa, cuma tidak suka saja. Waktu masih menggunakan ubuntu, tidak lama menggunakan unity kemudian berpindah DE ke GNOME kemudian saat muncul Cinnamon maka berpindah ke Cinnamon. Hanya saja karena Cinnamon adalah DE dari Linux Mint (salah satu turunan ubuntu yang juga populer) maka berpindahlah semuanya ke Linux Mint, tidak hanya DE nya tetapi se distro-distro nya berpindah. Nah Linux Mint ini siklusnya persis dengan ubuntu, rilis setiap 6 bulan sekali, sekitar 1 bulan setelah ubuntu rilis, dan ada juga versi LTS yang juga mengikuti versi LTS nya ubuntu. Cukup lama juga menggunakan Linux Mint sampai akhirnya muncul rasa malas jika dalam beberapa bulan sekali harus melakukan installasi, sebenarnya bisa saja menggunakan versi LTS dan bisa setidaknya 2 tahun sekali jika ingin upgrade, tapi rasanya gatel kalau ada versi baru keluar dan tidak mencoba, rasa nya gimana gitu 😀

Sebenarnya ada juga distro linux yang menerapkan konsep lain, rolling release, jadi tidak pernah ada rilis resmi setiap beberapa bulan/tahun sekali, setelah install kalau ada upgrade ya upgrade saja. Kalaupun ada media instalasi, entah iso image atau apalah yang bisa di download, itu adalah snapshot build terakhir, setelah itu ya sudah pake terus tanpa instal pun tidak ada masalah.

Lantas kenapa tidak berpindah ke model distro yang rolling release? nah ini ada alasannya. Kebetulan pernah baca-baca menurut para pengguna distro model rolling release ini jika ada upgrade yang cukup penting bisa terjadi masalah, misal gagal masuk ke x window atau ada error atau apalah gitu meski. La kalau yang laptopnya cuma punya 1 dan digunakan untuk kerja sehari-hari kan jadi repot. Akhirnya memutuskan untuk tidak dulu menggunakan yang model rolling release. Tentu tidak lucu kalau pagi-pagi setelah update tidak bisa masuk ke x window dan baru bisa memperbaiki beberapa jam kemudian misalnya, la kerja nya gimana? waktu untuk memperbaiki kan bisa digunakan untuk melakukan hal lain. Kalau model kerjanya bisa meninggalkan laptop dulu atau menggunakan laptop lain sih gak masalah, model kerja tukang ketik gini kan ya semua-semua ada di dalam laptop kalau pindah ya pastilah repot.

Sedikit curhatan pagi-pagi 😀

Slackware bisu

Jadi cerita nya kemarin install slackware dan ternyata bisu alias tidak ada suara yang keluar. Selalu keluar pesan “The audio playback device HDA Intel PCH (ALC269VB Analog) does not work.” saat mencoba menjalankan kmix, di test menggunakan audio setup ya sami mawon tetep bisu. Sebenarnya tanpa suara ya gak apa-apa karena biasa tiap hari jarang menghidupkan suara, kalau cuma yutuban lihat highlight bola sudah biasa tanpa suara. Tapi ya tetep ada kemungkinan butuh, jadi ya harus dicari solusinya 😀

Begini langkah-langkah dalam mencari solusi.
Lewat google cari-cari jika sudah ada yang kena masalah yang sama, langkah-langkah yang penulis gunakan sampai suara berhasil keluar adalah sebagai berikut :

cek ID dari sound cardnya :
bash-4.2$ cat /proc/asound/card1/id
PCH

jadi id dari soundcard nya adalah PCH.

buat file snd-hda-intel.conf di /etc/modprobe.d dan isi seperti dibawah

options snd-hda-intel id=PCH index=1

Reboot kemudian gunakan kmix untuk setting volume dan testing apakah suaranya sudah keluar apa belum. Di tempat penulis, di test lewat kmix sudah keluar suaranya, tetapi kalau menggunakan aplikasi pemutar musik atau video masih bisu.

Buat file .asoundrc di home directory dan isikan seperti berikut:

pcm.!default {
type hw
card PCH
}
ctl.!default {
type hw
card PCH
}

selesai dan sekarang suaranya sudah keluar dengan lancar.

Dapet tutorialnya di website berikut
https://bbs.archlinux.org/viewtopic.php?id=134145 memang archlinux itu distronya
#heker seperti temen saya pak gogon itu.