Suara Rantainya Bagus Mas

Pernah berpapasan dengan sepeda yang berisik saat turunan? atau malah bisa jadi punya sepeda yang seperti itu. Biasa disebut dengan suara “jangkrik”, suara berisik tersebut ternyata banyak disukai. Yang pada hobi sepeda biasanya freehub nya diganti dengan yang bisa mengeluarkan suara jangkrik. Ada juga yang melakukan manipulasi agar freehub yang sebenarnya bunyinya biasa saja bisa njangkrik.

Lantas kenapa disebut dengan jangkrik? kalau didengarkan dalam kondisi putaran roda pelan, maka suaranya kana seperti suara jangkrik “krik krik krik”. Eh btw ini pendapat saya pribadi lo :)) (lebih…)

26player single speed

Sepeda single speed

Sudah sekitar hampir 1 bulan ini sepeda hitam ini nongkrong dirumah. Bukan sepeda baru karena memang beli second di bike2aja garage nya ma Bayu lewat mas Ferry.

Frame sepeda ini dartmoor 26player, jenis DJ alias dirt jump sehingga geometri nya memang buat lompat-lompatan, walau aslinya saya gak berani lompat-lompat pake sepeda. Kenapa milih frame ini? ya karena suka saja, saya gak terlalu paham tentang jenis-jenis frame sepeda maupun kegunaannya, tahunya ya general aja gak spesifik, yang jelas pas lihat frame nya saya suka dan harganya masuk. Jadi tidak memikirkan ini nanti enak enggak kalau buat jalan yang kayak gini atau kayak gitu, hehehehehe

Beli sepeda ini karena memang pengen, pengen buat blusukan yang lebih ekstrem sebenarnya, tapi ya sampai sekarang belum kesampean :)) masih blusukan seputaran rumah yang sebenarnya bisa dilakukan dengan sepeda yang satu lagi. Tapi gak apa-apa lah, yang penting ada sepedanya dulu, tinggal kapan-kapan dicoba jalur yang lebih menantang.

Pernah dicoba buat nanjak ke warjo pakem dan hasilnya gobyos keringat, maklum single speed sehingga tidak bisa pindah-pindah gear menyesuaikan elevasi. Tapi ternyata kuat kok walau ngos-ngosan :))

Gowes Ke Candi Plaosan

Sebenarnya gowes nya sudah beberapa saat yang lalu, tanggal 5 september 2015 tepatnya. Cuma berhubung baru sempet nulis ya baru sekarang ditulis. 

Candi plaosan sendiri merupakan sebuah candi Budha yang letaknya tidak terlalu jauh dari candi prambanan. Penjelasan lengkap mengenai candi plaosan ini bisa di baca di sini.

Untuk acara gowes nya sendiri, seperti biasa bersama teman-teman dari grup “pit-pitan kapan?” dan untuk kali ini sekaligus ngreyen karena salah satu anggota kita baru saja ganti frame sepeda yang konon beli nya jauh-jauh ke magelang.

Untuk yang ikut gowes hanya berempat, saya sendiri, mas aris, ayik dan wasi ditambah pak yanarief yang langsung menyusul ke candi. Berangkat dari rumah sekitar jam setengah 6 pagi langsung ke kantor PT VMA di karangwaru. Setelah itu lanjut ketemua wasi di babarsari baru lanjut ke candi. 

Sampai di candi sekitar jam 8 pagi, perjalanan memang agak lama karena selain jarak yang lumayan jauh kita juga cuma gowes santai. Sampai di candi istirahat di depan candi sambil foto-foto, kemudian masuk dan foto-foto lagi sambil istirahat dan menunggu pak yanarief datang.

Sekitar jam 9 perjalanan pulang dimulai, mampir makan di warung WS, tepi selokan mataram (lupa nama kampungnya). Pak yanarief sendiri karena rumahnya di bantul begitu sampai di ring road timur langsung belok kiri. Sedangkan yang lain terus mengikuti selokan ke arah barat.

Sampai rumah sekitar jam 12 dengan total perjalanan, menurut strava, lebih dari 60 km. Lumayan capek dan pegel2 😀

Ancol Bligo, Titik 0 km Selokan Mataram

Titik 0 km selokan mataram

Ancol Bligo, salah satu tempat tujuan dolan yang cukup terkenal di daerah tempat tinggal saya. Dulu kalau mendengar nama Ancol Bligo yang terpikir adalah sebuah lokasi tempat banyak orang berpacaran dan main kalau bolos sekolah. Iya dulu seperti itu, mungkin karena tempatnya yang berada di pinggir sungai Progo jadi terkesan romantis gitu. Selain itu tempatnya cukup pas untuk kabur dari sekolah karena kemungkinan untuk bertemu dengan orang yang dikenal, tetangga atau saudara misalnya, kecil sekali.

Ancol Bligo ini bisa disebut sebagai nol kilometernya selokan mataram, selokan yang membelah yogyakarta (sleman tepatnya), dan menjadi pusat irigasi dari ber hektar-hektar wilayah pertanian. Menurut cerita selokan mataram ini dibangun pada masa pendudukan jepang hasil kesepakatan Sri Sultan Hamengkubuwono IX dengan pemerintah Jepang.

Untuk menuju ke Ancol Bligo, yang berada di desa Bligo kecamatan Ngluwar kabupaten Magelang ini, cara paling mudah adalah dengan menyusuri selokan mataram. Jalannya memang tidak besar tapi cukup pas untuk sepeda atau sepeda motor. Kalau mobil ya ada beberapa bagian yang tidak bisa atau sulit dilalui.

Setelah beberapa lama ingin dolan sambil bersepeda kesana, maklum dulu waktu jaman sekolah malah belum pernah, akhirnya kesampaian juga. Awalnya dikarenakan acara sepedaan yang rencananya ke sentolo pada hari Sabtu 22 Agustus kemarin gagal, akhirnya memutuskan untuk sepedaan sekalian survey nyari jalan ke Ancol Bligo. Siapa tahu nanti kapan-kapan ada yang ngajakin gowes kesana. Rencana awal sendirian saja, tapi ternyata ada teman yang kepengen “ngreyen” stem dan setang baru sepeda, iya kan mas Burhan?

Janjian ketemuan dengan teman tersebut jam 6 pagi di perempatan Balangan kemudian dilanjut menuju Ancol Bligo lewat jalur Blaburan. 

Oya Balangan ini dilewati oleh selokan Van Der Wijk yang juga berasal dari Progo dan menuju ke arah selatan. Dan di sebelah utara Balangan ini ada dikenal Buk Renteng, Buk dalam bahasa jawa biasa diartikan sebagai jembatan kecil di jalan yang dilewati air, nah di utara Balangan ini karena sungai nya lewat pinggir jalan dan posisinya lebih tinggi dari jalan dan cukup panjang akhirnya disebut Buk Renteng.

Dari arah Balangan menuju ke utara sampai di derah Banyurejo kemudian ambil ke barat menuju Blaburan. Dari Blaburan terus sampai akhirnya sampai di wilayah desa Bligo. Begitu ketemu selokan memutuskan untuk lewat pinggir selokan saja. Jalannya lumayan rusak di beberapa bagian, aspal tapi tinggal bebatuan saja. Sempet blusukan lewat tepi selokan dan hanya jalan tanah plus rumput. Kemudian nyebrang selokan lewat sebuah jembatan kecil dan melewati jalanan cor.

Kalau di awal-awal lewat pinggir persawahan, begitu masuk ke wilayah perkampungan maka di kanan kiri banyak pepohonan, seger dan serasa lewat hutan pokoknya. Ada juga sendang atau kolam kecil di beberapa lokasi dan sepertinya masih digunakan oleh penduduk setempat. Oya jangan kaget juga kalau ketemu orang sedang buang air kecil/besar di pinggir selokan ya.

Saat sampai di kampung yang berupa perbukitan ternyata selokan mataram ini berasal dari dalam tanah, mungkin jalurnya lewat semacam terowongan sehingga tidak bisa diikuti lagi. Terus lanjut gowes lewat kampung sampai akhirnya ketemu jalan aspal. Lanjut terus dan sambil tengak tengok kiri kanan nyari dimana selokannya. Lama-lama cukup bingung dan takut salah jalan kemudian memutuskan untuk memanfaatkan GPS alias Gunakan Penduduk Setempat untuk bertanya. Dan bertanyalah pada bapak-bapak di pinggir jalan. Dari bapak tersebut diberi petunjuk jalan dan ternyata selokannya tinggal dekat sekali. Dari jalan aspal masuk kiri pas pertigaan kemudian ikuti jalan dan sudah sampai lagi di tepi selokan. Nah di titik inilah ternyata selokan Mataram ngumpet masuk ke terowongan.

Dari titik selokan masuk ke terowongan ini tinggal beberapa ratus meter akhirnya sampai juga di pinggir Progo dan inilah ternyata titik nol kilometer selokan Mataram.

Jangan lupa narsis

Kebetulan juga musim panas, sungai Progo terlihat kering dan banyak bebatuan. Tetapi di utara bendungan yang digunakan untuk membendung dan mengalirkan air ke selokan Mataram airnya cukup besar. Hanya yang setelah bendungan inilah airnya kering.

Sedang ada renovasi di bendunga sungai Progo

Di sebelah bawah itu tempat air berbelok dan merupakan awal selokan mataram

Bersepeda Dan Taat Aturan Lalu Lintas

“Banyak pesepeda yang tidak tertib lalu lintas”. setuju dengan pernyataan tersebut? nek penulis ya setuju. Memang tidak semua, tapi ada dan banyak sekali. Pengalaman pribadi, yang paling gampang dilihat ya pas di lampu merah. Di jogja pas lampu merah banyak yang tidak berhenti saat lampunya merah, maju terus dan kalau jalur lain agak sengang langsung pancal. Kalaupun ada yang berhenti biasanya ya didepan marka jalan, walau sudah ada ruang tunggu sepeda pun jarang yang memanfaatkan. Kadang ruang tunggu sepeda malah digunakan oleh pengendara kendaraan lain.

Kalau menurut penulis pribadi, pesepeda seperti halnya pengguna jalan lain harus mematuhi aturan yang ada. Perlu diingat bahwa aturan yang ada fungsinya adalah agar tertib dan aman bagi semua pengguna jalan. Bisa dibayangkan kalau saat ngeblong lampu merah tersebut dari arah lain ada kendaraan yang melaju kencang. Tidak hanya pengendara sepeda yang mendapatkan bahaya tapi kendaraan yang lain itu pun bisa terkena bahaya. Bahkan pengguna jalan yang lain. Kalau misal terjadi kecelakaan maka sangat berbahaya, apalagi masih banyak pesepeda yang enggan menggunakan helm tentu bahayanya lebih besar.

Memang benar sebagai pengguna sepeda yang hanya mengandalkan kekuatan otot, berhenti di lampu merah itu cukup berat. Waktu mulai jalan lagi harus memulai dari nol lagi. Bayangkan saja, disaat sudah nyaman jalan dan dapat momentum tenaga dan kecepatan yang pas, harus berhenti dan mancal pedal lagi. Tapi ya itu resiko jika turun ke jalan dengan bersepeda, bukan alasan untuk kemudian melanggar aturan.

Selain itu terkadang pengendara lain juga kurang tepo seliro, ada yang hobi membunyikan klakson jika di depannya ada sepeda. Mungkin merasa terganggu dengan kecepatannya yang rendah kemudian membunyikan klakson agar pesepeda minggir. Pengalaman pribadi, walau sudah jalan di pinggir masih saja ada yang klakson-klakson.

Kalau semua taat aturan, saling menghormati dan bisa saling bersabar, tentu jalanan tertib dan tidak ada masalah.