Dilema Ngasih Pengemis

Pernah lihat pengemis di perempatan lampu merah? penulis yakin kalau yang tinggal di kota agak besar, tidak harus kota besar, yang ada perempatan lampu merah pasti pernah lihat. Seperti yang kemarin penulis juga lihat kemarin. Di perempatan monjali jogja dari arah timur, ada seorang anak kecil yang minta-minta. Setiap pengendara yang berhenti karena lampu merah didatengin, gak motor gak mobil. Anaknya kira-kira berumur sekitar 5 atau 6 tahun sekitar jam 8 malam.

Selain anak itu yang muter minta-minta, di pinggir jalan ada ibu-ibu yang menggendong anak bayi. Kalau dilihat dari cara nggendongnya kemungkinan umur bayinya masih dalam hitungan bulan, gak kelihatan soalnya ditutup rapet menggunakan kain.

Dalam kondisi yang waktu itu bagi penulis dingin banget, jujur kasihan lihatnya. Ya, lihat anak kecil yang muter-muter minta-minta sama lihat yang digendong. Mau ditutup serapat apapun pasti tetep dingin, ini di perempatan ring road lo, angine lumayan kenceng dan dinginnya mantab. Dalam kondisi seperti itu hanya mbak mbak yang seneng pake hotpen yang kemungkinan gak ngerasa dingin.

Penulis juga punya anak kecil, waktu masih bayi mau ditutup serapat apapun kalau gak dalam kondisi bener-bener penting gak pernah diajak keluar malam karena kalau kemana-mana naik motor. Takut kedinginan terus sakit. Kan orang tua juga nanti yang panik dan repot. Apalagi ini, anak kecil di perempatan ring road, malam-malam. Gak kebayang deh orang tuanya kok ya tega gitu. Kalau alasannya emang karena gak punya dan untuk bantu-bantu cari uang, mosok ya sampai harus mengorbankan anak seperti itu. Sudah sedemikian menyerahkah orang tuanya.

Berhubung gak tahu alasan sebenarnya dari orang tua yang membiarkan anaknya minta-mita malam-malam jadi ya hanya bisa nebak-nebak aja tanpa tahu yang benarnya kayak apa.

Yang bikin dilema adalah, sebenarnya pengen ngasih ke anak itu, jujur kasihan lihatnya, tapi kalau dikasih malah bisa jadi kebiasaan tiap malam jadi minta-minta terus soalnya pada dikasih. Coba kalau gak ada yang ngasih sama sekali, ada kemungkinan berhenti dan gak minta-minta lagi wong gak ada yang mau ngasih lagi. Tapi ya embuhlah 🙁

Ngantor di JDV

Jadi hari ini ngantor di JDV alias Jogja Digital Valley. Bukan karena jadi karyawan disana tetapi karena tempat kerja dapet jatah ruang private room dan kebagian jaga lilin di hari senin. Jaga lilin tapi siang-siang jadinya gak bisa ngepet 😐

Kesan pertama agak kurang menyenangkan karena pagi-pagi waktu datang kunci yang dikasih mbak di depan gak bisa digunakan membuka pintu sampai harus minta tolong bapak satpam dan ternyata ada kesalahan kunci yang diberikan. Oya walau ada kata “pagi-pagi datang” jangan dibayangkan kalau sampai JDV nya pagi jam 7 atau jam 8 ya :)) setelah itu ternyata ruangan yang ditempati remote ac nya tiada, bapak satpam gak tahu ada dimana itu remot, apalagi saya yang baru saja nyampe, dan pinjam ke ruangan sebelah agar bisa menyalakan ac nya 😀

Untuk ruanganya lumayanlah, cukup untuk 3 atau 4 orang, meski agak berdesakan kalau berempat. Untuk koneksi internet, lumayan menjurus ke lambat, sore ini sempet gagal commit kerjaan sampai 3 kali, dan pas dipake buat browsing-browsing juga lambat, waktu siang tadi lumayan lah cukup untuk youtube an atau nyetel-nyetel radio online. Tapi akhirnya sukses juga kok commitnya.

Overall lumayanlah untuk dipakai kerja, bisa sambil jalan-jalan lihat yang pada sibuk di ruangan depan atau ngintip-ngintip ruangan sebelah 😀

Mau Pakai Framework PHP Yang Mana?

Sudah lama tidak update isi blog, kalau gak salah posting terakhir sebelum ini di bulan desember, sudah hampir 2 bulanan lah. Selama 2 bulan ini tentu banyak sekali kejadian yang terjadi di sekitar penulis tapi ya memang lagi tidak ada ke selo an untuk menulis.

Yang terbaru adalah meletusnya gunung kelud kemarin dan abunya sejak kemarin menghiasi setiap sudut jogja dan sekitarnya yang membuat berdebu, tadi lewat ringroad utara lumayan debunya.

Berhubung penulis adalah orang yang setiap hari bekerja dalam lingkungan pengembangan web dengan php tentu saja selalu bersinggungan dengan yang namanya framework. Dari dulu awal-awal kenal Codeigniter dan sampai sekarang masih menggunakan juga 😀 pernah mencoba Kohana, Fuelphp, Yii dan tentu saja yang sedang naik daun dan sangat wow sekarang ini Laravel. Bahkan blog ini pun dibangun dengan Laravel.

Tapi kalau menurut penulis pribadi yang namanya framework itu tidak perlu dipaksakan, mau pakai yang mana atau gak pake sama sekali itu hak pribadi, ya semacam HAM lah kalau di dunia manusia. Walau Laravel yang sedang wow wow nya dan menggunakan teknologi paling mutakhir ya gak wajib dipakai kok. Contohnya saja misal kita mau kerja di sebuah kantor dan ternyata aplikasi yang dibangun masih pake codeigniter yang walau kita anggap itu sudah jadul jika dibanding laravel yang wow tadi ya gak mungkin to kita tiba-tiba minta rewrite sistem yang dibangun dengan codeigniter itu dengan laravel? bilang saja sama yang nginterview “kalau gak rewrite ke laravel saya gak mau masuk kantor sini!” paling dalam hati yang nginterview cuma bilang “siapa elo?” mending sih kalau cuma dalam hati, kalau malah diomelin terus suruh pulang? kalau bujang sih enak gak kerja masih bisa minta ortu, la kalau yang sudah berkeluarga? ya gak bisa gitu-gitu banget. Kalau kata paman @tediscprit “katresnan always win”, idealisme pikir belakangan yang penting halal 😀

Kalau memang selo dan punya kemampuan untuk menentukan sih gak masalah mau pake framework yang mana, ada di lingkungan yang semuanya cuma bisa Codeigniter terus minta semua harus menggunakan Laravel kemudian semua sistem yang ada di rewrite, tentu butuh waktu dan effort yang tidak sedikit.

Jadi mau pake apa? terserah saja, yang penting halal dan migunani tumraping liyan, minimal migunani buat keluarga 😀 karena ngomongin framework php itu gak akan ada habisnya, dah kayak debat kusir gak ada guna.