Lawan Juventus di Fase Grup Champion League

Kemarin sudah diadakan drawing (pengundian) liga Champion Eropa dan Juventus, tim favorit saya selama ini, berada dalam grup yang lumayan berat bersama Manchester City, Sevilla dan Borussia Moenchengladbach.

Yang menarik adalah karena disaat hampir bersamaan, Fernando Llorente, salah satu striker Juve telah resmi pindah ke Sevilla dan hasil pengundian mempertemukan atara Juventus dan Sevilla. Menarik ditunggu bagaimana Llorente akan menghadapi bekas klub yang telah dibelanya selama 2 musim terakhir ini.

Menarik juga ditunggu bagaimana kiprah Juventus, tim yang musim lalu lolos ke final meski akhirnya kalah saat menghadapi Barcelona, yang kehilangan beberapa pemain andalannya dan di pekan pertama Serie A kemarin kalah di kandang menghadapi Udinese.

Berikut hasil pengundiannya, di screenshoot langsung dari website resmi UEFA :F

#forzaJuve

Ancol Bligo, Titik 0 km Selokan Mataram

Titik 0 km selokan mataram

Ancol Bligo, salah satu tempat tujuan dolan yang cukup terkenal di daerah tempat tinggal saya. Dulu kalau mendengar nama Ancol Bligo yang terpikir adalah sebuah lokasi tempat banyak orang berpacaran dan main kalau bolos sekolah. Iya dulu seperti itu, mungkin karena tempatnya yang berada di pinggir sungai Progo jadi terkesan romantis gitu. Selain itu tempatnya cukup pas untuk kabur dari sekolah karena kemungkinan untuk bertemu dengan orang yang dikenal, tetangga atau saudara misalnya, kecil sekali.

Ancol Bligo ini bisa disebut sebagai nol kilometernya selokan mataram, selokan yang membelah yogyakarta (sleman tepatnya), dan menjadi pusat irigasi dari ber hektar-hektar wilayah pertanian. Menurut cerita selokan mataram ini dibangun pada masa pendudukan jepang hasil kesepakatan Sri Sultan Hamengkubuwono IX dengan pemerintah Jepang.

Untuk menuju ke Ancol Bligo, yang berada di desa Bligo kecamatan Ngluwar kabupaten Magelang ini, cara paling mudah adalah dengan menyusuri selokan mataram. Jalannya memang tidak besar tapi cukup pas untuk sepeda atau sepeda motor. Kalau mobil ya ada beberapa bagian yang tidak bisa atau sulit dilalui.

Setelah beberapa lama ingin dolan sambil bersepeda kesana, maklum dulu waktu jaman sekolah malah belum pernah, akhirnya kesampaian juga. Awalnya dikarenakan acara sepedaan yang rencananya ke sentolo pada hari Sabtu 22 Agustus kemarin gagal, akhirnya memutuskan untuk sepedaan sekalian survey nyari jalan ke Ancol Bligo. Siapa tahu nanti kapan-kapan ada yang ngajakin gowes kesana. Rencana awal sendirian saja, tapi ternyata ada teman yang kepengen “ngreyen” stem dan setang baru sepeda, iya kan mas Burhan?

Janjian ketemuan dengan teman tersebut jam 6 pagi di perempatan Balangan kemudian dilanjut menuju Ancol Bligo lewat jalur Blaburan. 

Oya Balangan ini dilewati oleh selokan Van Der Wijk yang juga berasal dari Progo dan menuju ke arah selatan. Dan di sebelah utara Balangan ini ada dikenal Buk Renteng, Buk dalam bahasa jawa biasa diartikan sebagai jembatan kecil di jalan yang dilewati air, nah di utara Balangan ini karena sungai nya lewat pinggir jalan dan posisinya lebih tinggi dari jalan dan cukup panjang akhirnya disebut Buk Renteng.

Dari arah Balangan menuju ke utara sampai di derah Banyurejo kemudian ambil ke barat menuju Blaburan. Dari Blaburan terus sampai akhirnya sampai di wilayah desa Bligo. Begitu ketemu selokan memutuskan untuk lewat pinggir selokan saja. Jalannya lumayan rusak di beberapa bagian, aspal tapi tinggal bebatuan saja. Sempet blusukan lewat tepi selokan dan hanya jalan tanah plus rumput. Kemudian nyebrang selokan lewat sebuah jembatan kecil dan melewati jalanan cor.

Kalau di awal-awal lewat pinggir persawahan, begitu masuk ke wilayah perkampungan maka di kanan kiri banyak pepohonan, seger dan serasa lewat hutan pokoknya. Ada juga sendang atau kolam kecil di beberapa lokasi dan sepertinya masih digunakan oleh penduduk setempat. Oya jangan kaget juga kalau ketemu orang sedang buang air kecil/besar di pinggir selokan ya.

Saat sampai di kampung yang berupa perbukitan ternyata selokan mataram ini berasal dari dalam tanah, mungkin jalurnya lewat semacam terowongan sehingga tidak bisa diikuti lagi. Terus lanjut gowes lewat kampung sampai akhirnya ketemu jalan aspal. Lanjut terus dan sambil tengak tengok kiri kanan nyari dimana selokannya. Lama-lama cukup bingung dan takut salah jalan kemudian memutuskan untuk memanfaatkan GPS alias Gunakan Penduduk Setempat untuk bertanya. Dan bertanyalah pada bapak-bapak di pinggir jalan. Dari bapak tersebut diberi petunjuk jalan dan ternyata selokannya tinggal dekat sekali. Dari jalan aspal masuk kiri pas pertigaan kemudian ikuti jalan dan sudah sampai lagi di tepi selokan. Nah di titik inilah ternyata selokan Mataram ngumpet masuk ke terowongan.

Dari titik selokan masuk ke terowongan ini tinggal beberapa ratus meter akhirnya sampai juga di pinggir Progo dan inilah ternyata titik nol kilometer selokan Mataram.

Jangan lupa narsis

Kebetulan juga musim panas, sungai Progo terlihat kering dan banyak bebatuan. Tetapi di utara bendungan yang digunakan untuk membendung dan mengalirkan air ke selokan Mataram airnya cukup besar. Hanya yang setelah bendungan inilah airnya kering.

Sedang ada renovasi di bendunga sungai Progo

Di sebelah bawah itu tempat air berbelok dan merupakan awal selokan mataram

Update Lollipop LMY48L di Nexus 7 LTE

Kemarin sore tiba-tiba muncul notifikasi kalau ada update android di tablet Nexus 7 LTE, tablet gaming anak wedok saya :D. Berhubung sudah beberapa lama tidak pernah memperhatikan perkembangan berita mengenai android jadi agak kaget juga kok mendadak ada update. Setelah baca-baca ternyata memang sedang ada update untuk masalah ini dan ada juga penjelasan mengenai update bulanan android disini.

Untuk proses update nya sih seperti biasa tinggal klik notifikasi nya dan jalan otomatis mulai dari download, reboot ke recovery sampai instalasi nya sudah otomatis semua. Enaknya update Over The Air ya seperti ini jadi tidak perlu proses flashing-flashing secara manual yang menyebalkan itu. Dan ukuran update nya juga kecil sekali hanya 15 mb. Asal koneksi lancar dijamin cepet.

Oya versi android nya sendiri masih lollipop 5.1.1 belum ada versi baru. Dan untuk update ini kode nya LMY48L.

Bersepeda Dan Taat Aturan Lalu Lintas

“Banyak pesepeda yang tidak tertib lalu lintas”. setuju dengan pernyataan tersebut? nek penulis ya setuju. Memang tidak semua, tapi ada dan banyak sekali. Pengalaman pribadi, yang paling gampang dilihat ya pas di lampu merah. Di jogja pas lampu merah banyak yang tidak berhenti saat lampunya merah, maju terus dan kalau jalur lain agak sengang langsung pancal. Kalaupun ada yang berhenti biasanya ya didepan marka jalan, walau sudah ada ruang tunggu sepeda pun jarang yang memanfaatkan. Kadang ruang tunggu sepeda malah digunakan oleh pengendara kendaraan lain.

Kalau menurut penulis pribadi, pesepeda seperti halnya pengguna jalan lain harus mematuhi aturan yang ada. Perlu diingat bahwa aturan yang ada fungsinya adalah agar tertib dan aman bagi semua pengguna jalan. Bisa dibayangkan kalau saat ngeblong lampu merah tersebut dari arah lain ada kendaraan yang melaju kencang. Tidak hanya pengendara sepeda yang mendapatkan bahaya tapi kendaraan yang lain itu pun bisa terkena bahaya. Bahkan pengguna jalan yang lain. Kalau misal terjadi kecelakaan maka sangat berbahaya, apalagi masih banyak pesepeda yang enggan menggunakan helm tentu bahayanya lebih besar.

Memang benar sebagai pengguna sepeda yang hanya mengandalkan kekuatan otot, berhenti di lampu merah itu cukup berat. Waktu mulai jalan lagi harus memulai dari nol lagi. Bayangkan saja, disaat sudah nyaman jalan dan dapat momentum tenaga dan kecepatan yang pas, harus berhenti dan mancal pedal lagi. Tapi ya itu resiko jika turun ke jalan dengan bersepeda, bukan alasan untuk kemudian melanggar aturan.

Selain itu terkadang pengendara lain juga kurang tepo seliro, ada yang hobi membunyikan klakson jika di depannya ada sepeda. Mungkin merasa terganggu dengan kecepatannya yang rendah kemudian membunyikan klakson agar pesepeda minggir. Pengalaman pribadi, walau sudah jalan di pinggir masih saja ada yang klakson-klakson.

Kalau semua taat aturan, saling menghormati dan bisa saling bersabar, tentu jalanan tertib dan tidak ada masalah.

Sepedaan Santai Ke Puncak Bibis, Pajangan

Hari ini (sabtu 8 Agustus 2015) bersama beberapa kawan (Wasi, Damar, Dedy) melakukan acara sepeda santai ke arah selatan. Tepatnya menuju warung bubur bu yati di puncak bibis, pajangan. Sebenarnya ada beberapa teman lain yang confirm ingin ikut, tapi karena satu atau dua sebab akhirnya hanya kami berempat yang jadi berangkat.

Jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh, dari ring road menuju ke arah goa selarong, melewati jalan bibis raya dengan santai pun paling hanya butuh waktu sekitar setengah jam perjalanan. Rute nya pun selalu melewati jalanan beraspal dengan kondisi bagus. Ada beberapa tanjakan di awal tetapi semua bisa dilalui dengan mulus. Oya kalau pagi dan hari kerja jalanan lumayan ramai ada banyak pelajar yang sedang berangkat sekolah sehingga harus selalu berhati-hari.

Serunya adalah beberapa meter sebelum sampai puncak, karena kita ini menuju puncak sebuah bukit, maka di akhir rute ada sebuah tanjakan yang sangat menantang, melewati, kalau gak salah, 3 kelokan dengan kemiringan mungkin ada 30-40%. Waktu bersepeda ke sendang ngembel beberapa waktu lalu, tanjakan ini sudah memakan korban salah satu sepeda yang loss rantainya. 

Hari ini pun setelah cukup sukses naik dari bawah sampai tinggal 1 belokan terakhir, mungkin kira-kira kurang seperempat jalan lagi saya pun memutuskan untuk berhenti dan istirahat saja, soalnya kaki sudah terasa kaku, takut malah kram. Akhirnya sih bisa sekalian ngambil poto teman-teman lainnya yang sudah TTB dari setengah perjalanan tanjakan.

 Gak masalah dituntun, karena tanjakannya emang gila :D, itu dibawah sana ada 2 belokan dan di atas masih 1 belokan lagi

Di warung bu yati ini menunya cukup sederhana, menu utamanya adalah bubur dengan sayur dengan berbagai lauk seperti ayam, telor, telor asin dan gorengan. Selain itu yang menarik adalah untuk minumannya menggunakan gula batu, bagi saya lebih enak daripada gula pasir biasa.

Hari ini makan dengan bubur plus sayut dan telor tambah gorengan serta teh panas total hanya habis 7500 rupiah, murah bukan? 

Tapi bagi yang merasa kurang kenyang kalau hanya makan bubur mungkin bisa saja mampir beli roti atau nasi dijalan 😀

                Setelah selesai makan bubur, mejeng dulu

                  Ada satu sepeda murah meriah nyempil di parkiran 😀