Mengenai Pemilihan Distro Linux

Ubuntu, sebagai salah satu distro paling populer dan salah satu distro yang memiliki turunan banyak juga menerapkan metode rilis setiap bulan sekali, jadi setiap tahun nya ada 2 rilis dan jika kita termasuk pengguna ubuntu dan ingin selalu menggunakan yang terbaru maka setidaknya 2x dalam setahun kita melakukan instalasi. Tetapi ada juga versi LTS (Long Term Support) yang rilis setiap 2 tahun sekali dan memiliki masa tayang lebih lama , jadi bagi yang tidak ingin 2x setahun melakukan installasi bisa menggunakan versi LTS ini.

Oke, penulis saat ini tidak suka ubuntu, lebih tepatnya tidak suka dengan unity. Kenapa? preferensi pribadi sih, tidak ada masalah apa-apa, cuma tidak suka saja. Waktu masih menggunakan ubuntu, tidak lama menggunakan unity kemudian berpindah DE ke GNOME kemudian saat muncul Cinnamon maka berpindah ke Cinnamon. Hanya saja karena Cinnamon adalah DE dari Linux Mint (salah satu turunan ubuntu yang juga populer) maka berpindahlah semuanya ke Linux Mint, tidak hanya DE nya tetapi se distro-distro nya berpindah. Nah Linux Mint ini siklusnya persis dengan ubuntu, rilis setiap 6 bulan sekali, sekitar 1 bulan setelah ubuntu rilis, dan ada juga versi LTS yang juga mengikuti versi LTS nya ubuntu. Cukup lama juga menggunakan Linux Mint sampai akhirnya muncul rasa malas jika dalam beberapa bulan sekali harus melakukan installasi, sebenarnya bisa saja menggunakan versi LTS dan bisa setidaknya 2 tahun sekali jika ingin upgrade, tapi rasanya gatel kalau ada versi baru keluar dan tidak mencoba, rasa nya gimana gitu 😀

Sebenarnya ada juga distro linux yang menerapkan konsep lain, rolling release, jadi tidak pernah ada rilis resmi setiap beberapa bulan/tahun sekali, setelah install kalau ada upgrade ya upgrade saja. Kalaupun ada media instalasi, entah iso image atau apalah yang bisa di download, itu adalah snapshot build terakhir, setelah itu ya sudah pake terus tanpa instal pun tidak ada masalah.

Lantas kenapa tidak berpindah ke model distro yang rolling release? nah ini ada alasannya. Kebetulan pernah baca-baca menurut para pengguna distro model rolling release ini jika ada upgrade yang cukup penting bisa terjadi masalah, misal gagal masuk ke x window atau ada error atau apalah gitu meski. La kalau yang laptopnya cuma punya 1 dan digunakan untuk kerja sehari-hari kan jadi repot. Akhirnya memutuskan untuk tidak dulu menggunakan yang model rolling release. Tentu tidak lucu kalau pagi-pagi setelah update tidak bisa masuk ke x window dan baru bisa memperbaiki beberapa jam kemudian misalnya, la kerja nya gimana? waktu untuk memperbaiki kan bisa digunakan untuk melakukan hal lain. Kalau model kerjanya bisa meninggalkan laptop dulu atau menggunakan laptop lain sih gak masalah, model kerja tukang ketik gini kan ya semua-semua ada di dalam laptop kalau pindah ya pastilah repot.

Sedikit curhatan pagi-pagi 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.